Kamis, 24 Desember 2009

INTI SARI AJARAN BUDHA

Tulisan ini hanya memperlihatkan ajaran Budha dari luar agama budha.

Agama Budha ialah agama yang mengajarkan jalan mencapai tingkat Budha.
Sidharta sebelum lahir sudah diramalkan oleh para pandita bahwa dia akan menjadi Bidha, oleh karena itu bapaknya melindunginya dengan kemewahan, tidak boleh melihat penderitaan duniawi.
Dalam ceritra Maha Beratha, Yudistira adalah seorang Budha, Sutesoma adalah seorang Budha, lalu Budha itu apa,..? Budha bukan dewa, dia berada diatas para dewa2 seperti contoh dibawah ini,..

Yudistira adalah Budha, Bima dalah Betara Bayu, Arjuna adalah betara Siwa, Nakula-Sadewa adalah dewa kembar . Yudistira sebagai raja, mempertaruhkan kerajaannya dimeja judi, bahkan istrinya sediri, dipertaruhkan, saudara2nya, sampai dirinya sendiri dipertaruhkan. Dia sendiri bukan penjudi, akibatnya dia kalah total, karena lawannya curang. Semua saudaranya marah, petinggi kerajaan juga marah, tetapi Yudistira tetap teguh dalam pendiriannya. Akibatnya pendawa dibuang 12 tahun dalam hutan, karena kerajaannya sudah diambil oleh Duryodana, sedangkan istri, adik2nya dan Yudistira sendiri, tidak diambil sebagai taruhan.

Yudistira sebagai Budha sudah mengatahui waktu lalu, waktu sekarang dan waktu yang akan datang. Pembuangan pendawa ke hutan adalah untuk mencari simpati dan dukungan raja2 lain dalam menghadapi perang Beratha-Yudha. Sotosoma juga dapat mengalahkan raksasa Betara Kala (dewa Waktu) dengan tanpa sanjata bahkan tanpa melawan. Hal ini menunjukkan bahwa Budha berada diatas para dewa2. Di suatu tempat ada seorang perampok yang sangat kejam, tidak ada orang yang berani liwat disana, tetpi Sidartha sengaja lewat kesana. Melihat mangsanya, perampok segra mengejarnya. Walaupun perampok sudah lari sampai kehabisan nafas, dia tidak dapat menyentuh Sidartha, sehingga perampok menyerah dan menjadi pengikut Budha.

Seseorang yang sudah mencapai alam Budha disebut penjelmaan Budha seperti Sidharta. Alam Budha ialah alam kesadaran murni. Sifat alam ini real, bukan abstrak, bukan pula gaib, tetapi sangat bening, seperti kaca tanpa debu sedikitpun, luasnya tidak terbatas. Walaupun alam itu nampak kosong, tetapi masih memiliki corak seperti pengertian, kesadaran, energi, intlegensia sehingga dia bisa mewujudkan alam maya yang teratur.

Disamping alam Budha, kita juga mengenal alam “Maya” yaitu alam yang tercipta oleh alam budha seperti dikatakan sbb: Segala sesuatu yang meliputi Jasmani, pikiran dan awidya adalah hayal, semuanya itu terwujud dari “Paripurnabudhi” /kesadaran murni. Lao-Tse menyebutnya Tao, Yohanis menyebutnya Firman, kaum religius menyebutnya Tuhan, tetapi Tuhan bersifat hayal, tidak real, berakar dari keyakinan umat.

Awidya dalam istilah umumnya ialah kepribadian semu, atau ego, dalam sebutan seharian disebut “aku” Bagi orang yang memakai ego semu, alam maya itu dikatakan sebagai realitas, karena dia sendiri sebenarnya adalah semu, sehingga dia tidak mungkin dapat melihat realitas/kesadaran murni.

Semua manusia, bahkan semua makhluk apapun memiliki kesadaran murni, tetapi tidak semuanya nampak karena ditutup oleh awidya/ egois yang bersifat semu. Ego itu terbentuk oleh sensasi2 dari luar seperti penglihatan, pendengaran, perasaan, sentuhan, pemikiran, hayalan dll. Sensasi-sensasi ini disebut kotoran bathin.. Kesadaran murni yang dibungkus oleh kotoran bathin menimbulakn kesadaran semu yang disebut ego
Saya ambil contoh sbb: sebuah rol fiem kosong kita putar, dilayar nampak putih bersih, itulah alam kesadaran murni. Setelah filem itu diisi rekaman, maka dilayar akan nampak alam kehidupan berupa orang, rumah, binatang dll. Itulah yang disebut alam maya, kepribadian yang main disana adalah kepribadian semu.
Ego atau kesadaran semu itulah yang hidup dalam alam kesangsaraan, itulah yang menjadi objek dari ajaran Budha. Tujun ajaran budha ialah membersihkan kotoran bathin sehingga kesadaran murni bisa muncul, dengan demikian manusia bebas dari kesamsaraan atau mencapai nirwana.

Aku atau ego itu bisa memiliki kesadaran karena cahaya kesadaran murni berada dibalik alam maya itu, dia memberi kesadaran kepada ego semu berupa kesadaran manusiawi. Ajaran spiritual ialah mengupas kotoran/gambar2 itu sehingga kepribadian manusia menjadi terang seperti kesadran murni.

Ada dua tahap ajaran Budha sesuai dengan kemampuan umat.
Ajaran pertama mengandung ajaran agama, yaitu tuntunan dalam menjalankan darma, yang terdiri dari , keyakinan, moralitas dan kebijaksanaan. Ajaran ini tertuang dalam Dammapada. Moralitas dan kebijaksanaan dalam Dammapada didasarkan atas hukum Karma-Pala dan kewajiban menjalankan Darma.

Ajaran kedua menjurus kepada pencapaian kesadaran murni. Ajaran ini tertuang dalam Nitathasutra yang beris penjelasan tentang alam maya dan alam budha. Disini juga dijelaskan tentang awidya, yaitu pribadi yang semu, Ajaran ini sama dengan ajaran spiritual, pencapaiannya juga sama dengan pencapaian spiritual. Secara garis besarnya ada tiga cara yang diajarkan Sidartha untuk mencapai alam kesadran murni a.l
1. Samatha. = Raja-yoga. Setelah memahami dengan jelas tentang awidya, alam maya dan kesadran murni, seseorang harus menggunakan pengetahuannya itu untuk menjalankan darma, yaitu melaksanakan kewajibannya, sesudah itu mencari tempat yang sunyi, melakukan pembersihan bathin, sehingga semua kotoran bathin bersih total.
2. Samapatti = Jnana-yoga Dengan cara mempelajari tentang kebathinan, pengindraan, spiritual, corak2 dalam alam kejiwaan, sehingga semuanya itu menjadi jelas dan terang. Sesudah itu mereka melakukan meditasi / pembersihan bathin dengan pengetahuan yang mereka miliki.
3. Dhyana = Karma-yoga. Yaitu melakukan pekerjaan seperti biasa, tetapi tidak terpengaruh oleh hasilnya. Dia harus berusaha melawan efek samping dari pekerjaannya, sehingga hatinya benar-benar bebas dari pengaruh apapun yang dikerjakannya. Arti pekerjaan bagi dia adalah pembersihan bathin, pekerjaan itu hanya berupa alat untuk membersihkan bathinnya. Setelah bathinnya bersih total, dia bisa masuk kedlam kesadaran murni.
Dari ketiga cara itu, selanjutnya bisa dijabarkan menjadi 25 jalan sesuai dengan pilihan umat, tetapi dasarnya ialah dari ketiga ajaran tersebut diatas..

Dari uraian diatas, jelas bahwa Agama Budha tidak mengenal apa yang disebut Tuhan versi Islam dan Kristen, tetapi dia mengenal dan melihat kekuatan yang mengatur alam semesta, yaitu alam kesadaran murni, yang disebut “Paripurnabudhi” . Kesadaran Murni itu sifatnya riel, nyata, bening seperti kaca tanpa debu, jauh lebih halus dari udara. Jika udara memberikan kehidupan kepada semua makhluk, kesadaran murni itu memberikan kesadaran kepada semua makhluk.

Tuhan adalah wujud semu, terbentuk dari batas imajinasi umat, sama dengan langit biru, adalah batas pandangan manusia. Saya ambil contoh kelompok kompasiana terdiri dari dua kelompok. Kelompok-1 sudah pernah melihat kota paris, kelompok-2 tidak pernah melihat kota paris, tetapi dia mempunyai legenda tentang paris.
Dalam legenda dikatakan kota paris itu adalah sorga, penuh bidadari, semua orang hidup serba mewah. Karena legenda itu ditulis dalam kitab suci, dia percaya wujud kota paris seperti itu.
Kota paris dalam legenda adalah kota semu, hanya ada dalam hayalan . Kalau kelompok-1 menjelaskan kota paris sesuai kenyataan, kelompok-2 akan menentang habis-habisan , masih untung kalau difatwakan sesat, dihalalkan darahnya, lebih sial lagi kalau disalibkan dengan tuduhan mengujat kota paris yang disakralkan.

Dalam ringkasan Begawan Gita saya juga telah menjelaskan wujud Tuhan yang bisa dilihat oleh Arjuna. Wujud Tuhan menurut Hindu itu adalah berupa pribadi yang maha besar, seluruh alam semsta ini adalah bahagian dari pribadi tersebut. Paripurnabudhi dengan kehalusannya dia berada pada semua benda dan makhluk hidup, dengan demikian seluruh alam ini adalah manifestasi dari paripurnabudhi. Dari kedua versi diatas kita dapat simpulkan tidak ada perbedaan prinsip, hanya penyampaiannya yang berbeda.

Saya percaya kelompok kompasiana adalah generasi muda yang intelek, terpelajar, bisa berpikir objektif dan realistis, oleh karena itu uraian berbagai agama memperkaya dan menambah wawasan para pembacanya.
Salam kompasiana (madeteling@plasa.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar